Blog Dream of Love berisikan tentang Cinta, Informasi, Artikel keluarga dan Berita aktual terkini

Menikah Tanpa Cinta Pasti Ada Resikonya


Mencari arti cinta yang paling sesuai dengan Anda memang membutuhkan waktu. Belum sempat menemukan, usia dan lingkungan semakin mendesak untuk memikirkan sebuah pernikahan. Ya, pernikahan! Momen untuk memutuskan dengan siapa Anda akan menyatukan tujuan hidup dan menghabiskan sepanjang hidup bersama.

Dari momen ini, setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda. Ada yang berpendapat untuk mencari dia yang paling sesuai untuk tujuan hidup, baik itu prestise, kebaikan hati, kekayaan atau status. Walaupun tanpa cinta. Bagi mereka, cinta akan tumbuh dengan sendirinya dari kehidupan yang menyenangkan. Ada lagi yang berpikiran apa pun itu keadaannya, dengan cinta pasti semua akan bisa dilalui dengan baik.

Kita tidak bisa menilai benar dan salah dari dua pendapat ini, semuanya tergantung kesesuaian dengan pandangan hidup dan pribadi setiap orang yang menjalaninya. Kalau begitu, bagaimana dengan pendapat baku 'menikahlah dengan orang yang kau cintai'? Mengapa pendapat itu masih dipertahankan banyak orang dalam nasehat perkawinan? Karena risiko menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta cukup menakutkan, Ladies! Seperti yang berikut ini.

Cinta Sejati Datang
Setiap orang dianugerahi rasa cinta yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Sayangnya, dia tidak peduli Anda sudah menikah atau tidak. Banyak wanita mengakui mereka menemukan seseorang yang begitu lekat di hati dan merasa itulah cinta sejati mereka, justru setelah menikah. Dan rasa ini bisa mengalahkan cinta yang mereka bangun dengan pasangan yang memberikan kehidupan yang membanggakan. Jika sudah begini, maka pilihannya adalah mengubur cinta dalam-dalam atau memperjuangkan cinta dengan mengorbankan apa pun itu.

Anak merasa tidak tenang
Mungkin hal ini jarang disadari oleh para orang tua. Seorang anak merasa tenang jika melihat kedua orang tuanya saling mencintai dan bisa mengarahkan pikiran dan energi mereka untuk banyak hal positif dalam hidupnya. Sedangkan anak dengan pasangan yang dingin akan cenderung menjadi anak yang dingin juga dan selalu merasa cemas kalau-kalau dia akan ditinggalkan ayah atau ibunya. Walaupun itu mengobrol, menonton televisi bersama, seorang anak bisa merasakan orang tuanya saling mencintai atau tidak.

Kehidupan yang hambar
Tanpa cinta, kehidupan akan berjalan seperti rutinitas biasa. Melayani suami, menyiapkan makanannya, membelikan kebutuhannya, bahkan saat bercinta tidak akan ada bedanya dengan suatu pekerjaan jika Anda tidak merasakan cinta di dalamnya. Sepanjang hidup seperti itu, siapa yang mau? Tidak masalah jika akhirnya Anda dan pasangan bisa saling jatuh cinta dari rutinitas sehari-hari itu, namun jika tidak, kehidupan rumah tangga akan menjadi siksaan saja.

Rentan pertengkaran
Dua sosok yang berbeda mau memahami sesamanya hanya karena dilandasi cinta. Tanpa itu, segala persoalan bisa menjadi pemicu masalah. Anda tidak terpikir untuk memahami semangat suami dalam bekerja untuk keluarga ketika dia harus sering ke luar kota. Suami pun tidak akan terpikir bahwa sarapan yang Anda siapkan tiap pagi dan kesetiaan Anda membukakan pintu saat dia pulang adalah sebuah bentuk kasih sayang. Walaupun akhirnya rumah tangga Anda tetap bersatu, namun tidak menjadi tempat yang nyaman untuk hidup.

Tidak bahagia
Sudah pasti risiko ini yang paling mendasar. Anda tentu paham bahwa kebahagiaan karena cinta dan kebahagiaan karena materi itu berbeda rasanya. Setiap orang pada dasarnya membutuhkan rasa bahagia, dan hal inilah yang menyebabkan walaupun sudah memiliki segalanya seseorang akan tetap mencari seseorang yang bisa membuatnya dimabuk cinta Baik Anda maupun suami akan selalu curiga kalau-kalau ada seseorang di luar sana yang akan membuat Anda berstatus janda atau suami menjadi berstatus duda. Tentu bukan kehidupan yang membahagiakan.






Referensi: 
http://www.vemale.com/relationship/love/5228-risiko-nikah-tanpa-cinta.html

33 comments:

  1. Artikel yg bagus, Mbak. tapi kadang saya berpikir rada "ngawur" (semoga tdk ngawur bneran. hehe). Berpikir org2 zaman dulu, kakek-nenek kita, atau buyut kita, tdk sdkit yg nikah krn dijodohkn. Tp kok ya langgeng, malahn bisa beranak pinak banyak banget. Sementra skrg ni, hmpir tiap waktu media massa memberitakan para artis yg kawin-cerai. Pdhl mulanya mereka begitu mesra dan katanya saling mncintai. Hmmm... **sambil ngelus jidat. :-)

    ReplyDelete
  2. itulah kalo jaman sekarang semua berbicara seakan atas nama cinta... sejatinya mnikah dengan mengatas namakan cinta akan indah bila dilandasi iman dan saling komitment dengan ciri personal masing2... kekurangan akan semakin menumbuhkan benih cinta dan kelebihan akan semakin mematangkan jiwa.
    sip banget artikelnya mbak

    ReplyDelete
  3. itulah Dahsyat Makna CINTA..
    I LIKE IT...

    ReplyDelete
  4. sip mbak... cinta selalu membawa dilema disana sini... karena cinta yg bisa membuat segalanya menjadi laen... waduh...ngomong apaaa aku ini :)

    ReplyDelete
  5. setuju sekali, tanpa ada cinta terhadap pasangan kita akan terasa hambar ...

    ReplyDelete
  6. Saya mungkin termasuk orang yg belum mengerti tentang cinta sejati sepasang kekasih atau bahkan calon suami-istri itu seperti apa. Mungkin saya juga termasuk orang kolot yang masih percaya bahwa sebuah hubungan rumah tangga itu bisa tercipta dan terbina sampai akhir hayat, karena sebuah komitmen yang kuat serta rasa saling mengerti dan memahami. Terkadang secara subyektifitas, kita susah membedakan antara perasaan cinta, suka dan nafsu.

    Seperti kisah orang tua kita atau aki buyut kita, yg kebanyakan menikah karena dijodohkan. Saya tidak menyoroti proses menuju pernikahannya, tapi saya selalu penasaran mengapa mereka bisa bertahan sampai akhir hayat dg kehidupan tanpa ada cinta sebelumnya. Sementara utk kondisi saat ini yg dibina bertahun² dg rasa (yg katanya) cinta, justru malah bercerai.

    Saya berkomentar seperti bukan krn punya pengalaman sering disakiti, saya cuman sekali merasa sakit, justru sayalah yg sering menyakiti (ngaku.com). Karena saat itu saya merasa ketika hubungan sudah semakin serius, saya merasa ada yg kurang. Akhirnya saya putuskan mengakhiri hubungan. Makanya saya menikah di usia 30 keatas. Dan ketika memutuskan menikah, saya betul² memaksa diri utk memilih dari sekian pilihan. Dan istri saya bukanlah pilihan yg paling saya cintai, tapi dia paling mengerti.

    Apakah hubungan RT saya akan berakhir? Saya berharap tidak dan jangan sampai... karena menikah itu juga merupakan ibadah. Dan Alhamdulillaah selama setahun lewat ini, belum pernah ada piring yg melayang

    Mohon maaf jika komennya terlalu panjang :)

    ReplyDelete
  7. wah artikelnya bagus sekali...waktu ayah ibuku masih ada (beliau meninggal pd umur 65 dan 75)..sampai kakek dan nenek keduanya betul2 memperlihatkan saling cinta yang tulus sekali..sekarang umurku dan istriku 65 dan 62 ,aku bermaksud membina cinta seperti ayah ibuku dulu, sehingga bisa dicontoh oleh anak2 ku kelak..alangkah indahnya hidup dengan cinta sejati..semoga...

    ReplyDelete
  8. kunjungan gan .,.
    bagi" motivasi
    kesuksesan tidak akan mendatangi anda, kecuali anda mengejarnya.,.
    si tunggu kunjungan baliknya gan.,

    ReplyDelete
  9. usia perkawinanku mungkin belum seberapa, namun aku mengambil kesimpulan bahwa membina sebuah rumah tangga agar tetap kokoh dan awet kuncinya adalah komitmen. setidaknya itu pengalaman pribadiku ketika menikah aku tak mencintai sepenuh hati kekasihku karena aku tak dapat melupakan cinta masa laluku. tapi aku memegang janjiku dan aku komit pada pilihanku bahwa suamiku adalah jodoh terbaik untukku dan apapun yang terjadi aku ingin selalu bersamanya.

    ReplyDelete
  10. Buat saya, cinta dan komitmen yang kuat adalah pondasi yang sangat dibutuhkan dalam suatu pernikahan....

    ReplyDelete
  11. @All sahabat saya yang udah kasih komentar, saya ucapkan banyak terimakasih telah berkenan memberi komentar.

    Happy Blogging For All:)

    ReplyDelete
  12. Kunjungan malam mbak
    saya jujur belum mengerti apa yang disebut cinta
    seperti yang dikatakan mas irham kenapa artis sekarang banyak yang menikah lalu cerai lalu menikah lagi padahal kata mereka, mereka menikah dilandasi dg cinta
    mungkin itu bukan cinta menurut saya, tapi lebih ke nafsu mungkin
    hehehe

    ReplyDelete
  13. Tergantung komitmen. Kalo ga saling mencintai tapi berkomitmen untuk saling setia, ya bisa langgeng, dan lama2 saling mencintai.

    ReplyDelete
  14. wah saya tidak pernah membayangkan bertapa hampanya bila hidup tanpa cinta........

    ReplyDelete
  15. Menikah tanpa ada cinta sama saja membangun rumah diatas pasir

    ReplyDelete
  16. jujur saya pingin nikah. Tapi ma siapa? wkwk :D

    ReplyDelete
  17. kalau saya membaca artikel ini memang bisa saja ada benarnya, dan itu adalah prndapat suatu hal yg harus dhormati, tapi banyak pepatah yang mengatakan, witing tresno jalaran soko kulino, sebaliknya dijaman sekarang justeru pacaran lama nikah cepat, lalu cepat cerai pula
    trims artikel yg bagus nambah wawasan

    ReplyDelete
  18. karena cinta \lah yang membuat seseorang tu bahagia...

    ReplyDelete
  19. Info menarik dan boleh sekali dicoba, Makasih buat infonya dan sukses

    ReplyDelete
  20. Terima kasih untuk tipsnya, saya mau coba semoga juga.

    ReplyDelete
  21. Saya cari dibeberapa website dan dapat tipsnya di website ini, terima kasih, mau dicoba oleh saya.

    ReplyDelete
  22. postingan yang menarik,,,,,,,,,,,,,,

    ReplyDelete
  23. menika tanpa cinta..??? bisa aja soal nya witeng tresno jalaran soko kulino .serius

    ReplyDelete
  24. saya alami sekarang, dan mungkin ini hidup yang harus saya jalani, saya mencari arti knp di beri cerita kayak bgini...!!!

    ReplyDelete
  25. Saya setuju, jangan sampai menikah dengan tidak cinta... Harus ada dan keterangan diatas adalah resiko resiko nya...

    ReplyDelete
  26. Tapi lebih mengerikan jika pernikahan di dasari cinta sesama jenis mbak

    ReplyDelete
  27. cinta datang untuk melengkapi,,tapi cintailah manusia karena Allah,,,karena tujuan kita sebenarnya hanyalah mendapatkan cinta dari Allah SWT..

    ReplyDelete